26 Agustus, 2008

ALUR PERAYAAN CINTA

dedicate for: Buwono rizki

Kalau anda perhatikan, hampir dalam setiap undangan nikah (yang muslim), selalu tertuang Surat Arruum ayat 21. “Dan diantara tanda tanda kekuasaannya ialah Dia menciptakan untuk kalian dari anfus (jiwa-jiwa) kalian sendiri, azwaaja (pasangan hidup), supaya kalian ber-sakinah kepadanya, dan dijadikan-Nya diantara kalian mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”
...
Kalau kita perhatikan, ayat itulah yang seharusnya kita jadikan plot (alur) dalam merayakan yang namanya cinta. Sedihnya lagi, kebanyakan para calon manten yang mencantumkan dengan tinta emas ayat tersebut dalam undangan nikahnya tidak mengetahui dan menghayati maknanya.

Ringkasnya, ada beberapa kata kunci dalam ayat ini.

1. Min anfusikum. Dari jiwa-jiwa kalian. Artinya, hal pertama yang dibicarakan AL Qur’an tentang pernikahan dua manusia adalah kesejiwaan. Ruh itu, kata Nabi seperti tentara. Jika kodenya sama, maka sandinya akan nyambung, walaupun belum saling melihat, mereka akan sepakat. Nah kalo ada tentara gak nyambung kodenya, ya udah..tembak dulu..urusan belakangan, lha wong kodenya aja gak nyambung. Karena itulah, tanpa membina hubungan lama-lama untuk “penjajagan”, simbah-simbah kita dahulu tetap langgeng sampai akhir hayat, karena kesamaan kode ..misalnya untuk taat dan berbakti kepada orang tua. Nah, apa sih kode dan sandi untuk ruh? Adalah komitmen kepada Allah dan agamanya.itu saja. Itulah kesejiwaan.


2. Azwaajan. Pasangan hidup. Tak perlu berlama-lama, sesudah kesesuaian jiwa, AL Qur’an segera mengatakan bahwa mereka menjadi suami-istri. Kita sering mendengar istilah “ kita harus mencari pasangan yang tepat, maka hubungan akan berhasil.” Sekarang pola pikir harus dibalik menjadi “berhentilah mencari pasangan yang tepat, dan jadikanlah orang disamping anda yang hebat untuk menjadi pasangan yang tepat” . Kalau sudah begitu, pilihan hanya menjadi dua: Menikahi orang dicintai atau mencintai orang yang dinikahi! Yang pertama adalah kemungkinan, sedangkan yang kedua adalah kewajiban.


3. Litaskunuu ilaiha. Supaya kalian tentram, tenang, padanya. Unik sekali. Kata hubung yang dipakai adalah lam (li) yang menunjukkan otomatis. Kata Allah, kalau pernikahan diawali dengan kesejiwaan, maka otomatis, sang suami akan merasakan ketentraman pad istrinya, dan seorang istri akan merasakan ketenangan pada suaminya. Lho?? Kok banyak rumah tangga tidak sakinah (tentram)?? Mungkin karena tidak dimulai dari kesejiwaan sehingga untuk sekedar tenteram saja susahnya minta mapun. Apa sih sakinah itu? Sederhananya, sakinah adalah yang menjadikan pernikahan sebagai separuh agama. Dengannya, orang bisa mengoptimalkan potensinya menjadi hamba Allah, khalifah (pengelola untuk kemaslahatan alam semesta). Tenteram karena gejolak syahwat sudah ada salurannya, tenang karena ada “sahabat” yang menenangkan dan siap mendukung perjuangan.


4. Wa ja’ala baiakum mawaddatan. Kemudian ada yang harus diproses, diupayakan, yakni mawaddah. Mawaddah itu apa ya?? Wah..dalam bahasa Indonesia susah diartikan, karena memang tidak ada kosakata yang pas. Untuk menyebut cinta, bahasa Indonesia hanya mempunyai satu kosakata, sedangkan bahasa arab punya 14 kosakata, dan tiap kosakata mempunyai “rasa” tersendiri. Mudahnya, mawaddah adalah cinta yang erotis-romantis. Bentuknya bisa ekspresi paling batin sampai paling dhahir (fisik) Dari yang emosional sampai yang seksual.


5. Waja’ala bainakum rahmatan. Yang harus diupayakan bukan hanya cinta Mawaddah, tapi juga rahmah. Ini termasuk cinta juga lho, bukan sekedar kasih sayang. Cinta macam mana pula “rahmah” itu?? Cinta ini seperti dalam lagu “kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagaikan surya menyinari dunia” hehehhee. Inilah cinta yang memberi, bukan menunggu, berkorban, bukan menuntut, berinisiatif, bukan menunggu, dan bersedia, bukan berharap-harap. Cinta semacam ini oleh para psikolog disebut “motherly love” atau cinta keibuan.

Nah, sekilas inilah rukun (alur) perayaan cinta yang dituntunkan dalam Al Qur’an. JIka kita mendesain perayaan cinta dengan alur seperti ini, insyaaAllah, pernikahan anda akan sukses sampai akhirat.

Sebentar-sebentar..kok banyak pernikahan yang error?? Nah..biasanya karena plot nya kacau. Pernikahan tidak dimulai dari kesejiwaan, tetapi justru dengan mawaddah. Sebelum menikah, mereka sudah menikmati cinta yang erotis – romantis. Makanya..jangan dulu..mawaddah tuh belakangan setelah kesesuaian jiwa, pernikahan dan ketenangan. Mungkin sebabnya, mungkin lho..sudah tidak ada rasa penasaran, lha semua udah tahu, termasuk jumlah tahi lalat di tubuh aja tahu….apa yang bikin penasaran lagi coba? wekekkekeke

*dari berbagai sumber

5 comments:

Unknown mengatakan...

dedicate for: Buwono rizki

Kalau anda perhatikan, hampir dalam setiap undangan nikah (yang muslim), selalu tertuang Surat Arruum ayat 21. “Dan diantara tanda tanda kekuasaannya ialah Dia menciptakan untuk kalian dari anfus (jiwa-jiwa) kalian sendiri, azwaaja (pasangan hidup), supaya kalian ber-sakinah kepadanya, dan dijadikan-Nya diantara kalian mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”
...
Kalau kita perhatikan, ayat itulah yang seharusnya kita jadikan plot (alur) dalam merayakan yang namanya cinta. Sedihnya lagi, kebanyakan para calon manten yang mencantumkan dengan tinta emas ayat tersebut dalam undangan nikahnya tidak mengetahui dan menghayati maknanya.

Ringkasnya, ada beberapa kata kunci dalam ayat ini.

1. Min anfusikum. Dari jiwa-jiwa kalian. Artinya, hal pertama yang dibicarakan AL Qur’an tentang pernikahan dua manusia adalah kesejiwaan. Ruh itu, kata Nabi seperti tentara. Jika kodenya sama, maka sandinya akan nyambung, walaupun belum saling melihat, mereka akan sepakat. Nah kalo ada tentara gak nyambung kodenya, ya udah..tembak dulu..urusan belakangan, lha wong kodenya aja gak nyambung. Karena itulah, tanpa membina hubungan lama-lama untuk “penjajagan”, simbah-simbah kita dahulu tetap langgeng sampai akhir hayat, karena kesamaan kode ..misalnya untuk taat dan berbakti kepada orang tua. Nah, apa sih kode dan sandi untuk ruh? Adalah komitmen kepada Allah dan agamanya.itu saja. Itulah kesejiwaan.


2. Azwaajan. Pasangan hidup. Tak perlu berlama-lama, sesudah kesesuaian jiwa, AL Qur’an segera mengatakan bahwa mereka menjadi suami-istri. Kita sering mendengar istilah “ kita harus mencari pasangan yang tepat, maka hubungan akan berhasil.” Sekarang pola pikir harus dibalik menjadi “berhentilah mencari pasangan yang tepat, dan jadikanlah orang disamping anda yang hebat untuk menjadi pasangan yang tepat” . Kalau sudah begitu, pilihan hanya menjadi dua: Menikahi orang dicintai atau mencintai orang yang dinikahi! Yang pertama adalah kemungkinan, sedangkan yang kedua adalah kewajiban.


3. Litaskunuu ilaiha. Supaya kalian tentram, tenang, padanya. Unik sekali. Kata hubung yang dipakai adalah lam (li) yang menunjukkan otomatis. Kata Allah, kalau pernikahan diawali dengan kesejiwaan, maka otomatis, sang suami akan merasakan ketentraman pad istrinya, dan seorang istri akan merasakan ketenangan pada suaminya. Lho?? Kok banyak rumah tangga tidak sakinah (tentram)?? Mungkin karena tidak dimulai dari kesejiwaan sehingga untuk sekedar tenteram saja susahnya minta mapun. Apa sih sakinah itu? Sederhananya, sakinah adalah yang menjadikan pernikahan sebagai separuh agama. Dengannya, orang bisa mengoptimalkan potensinya menjadi hamba Allah, khalifah (pengelola untuk kemaslahatan alam semesta). Tenteram karena gejolak syahwat sudah ada salurannya, tenang karena ada “sahabat” yang menenangkan dan siap mendukung perjuangan.


4. Wa ja’ala baiakum mawaddatan. Kemudian ada yang harus diproses, diupayakan, yakni mawaddah. Mawaddah itu apa ya?? Wah..dalam bahasa Indonesia susah diartikan, karena memang tidak ada kosakata yang pas. Untuk menyebut cinta, bahasa Indonesia hanya mempunyai satu kosakata, sedangkan bahasa arab punya 14 kosakata, dan tiap kosakata mempunyai “rasa” tersendiri. Mudahnya, mawaddah adalah cinta yang erotis-romantis. Bentuknya bisa ekspresi paling batin sampai paling dhahir (fisik) Dari yang emosional sampai yang seksual.


5. Waja’ala bainakum rahmatan. Yang harus diupayakan bukan hanya cinta Mawaddah, tapi juga rahmah. Ini termasuk cinta juga lho, bukan sekedar kasih sayang. Cinta macam mana pula “rahmah” itu?? Cinta ini seperti dalam lagu “kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagaikan surya menyinari dunia” hehehhee. Inilah cinta yang memberi, bukan menunggu, berkorban, bukan menuntut, berinisiatif, bukan menunggu, dan bersedia, bukan berharap-harap. Cinta semacam ini oleh para psikolog disebut “motherly love” atau cinta keibuan.

Nah, sekilas inilah rukun (alur) perayaan cinta yang dituntunkan dalam Al Qur’an. JIka kita mendesain perayaan cinta dengan alur seperti ini, insyaaAllah, pernikahan anda akan sukses sampai akhirat.

Sebentar-sebentar..kok banyak pernikahan yang error?? Nah..biasanya karena plot nya kacau. Pernikahan tidak dimulai dari kesejiwaan, tetapi justru dengan mawaddah. Sebelum menikah, mereka sudah menikmati cinta yang erotis – romantis. Makanya..jangan dulu..mawaddah tuh belakangan setelah kesesuaian jiwa, pernikahan dan ketenangan. Mungkin sebabnya, mungkin lho..sudah tidak ada rasa penasaran, lha semua udah tahu, termasuk jumlah tahi lalat di tubuh aja tahu….apa yang bikin penasaran lagi coba? wekekkekeke

*dari berbagai sumber

Anonim mengatakan...

dedicate for: Buwono rizki

Kalau anda perhatikan, hampir dalam setiap undangan nikah (yang muslim), selalu tertuang Surat Arruum ayat 21. “Dan diantara tanda tanda kekuasaannya ialah Dia menciptakan untuk kalian dari anfus (jiwa-jiwa) kalian sendiri, azwaaja (pasangan hidup), supaya kalian ber-sakinah kepadanya, dan dijadikan-Nya diantara kalian mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”
...
Kalau kita perhatikan, ayat itulah yang seharusnya kita jadikan plot (alur) dalam merayakan yang namanya cinta. Sedihnya lagi, kebanyakan para calon manten yang mencantumkan dengan tinta emas ayat tersebut dalam undangan nikahnya tidak mengetahui dan menghayati maknanya.

Ringkasnya, ada beberapa kata kunci dalam ayat ini.

1. Min anfusikum. Dari jiwa-jiwa kalian. Artinya, hal pertama yang dibicarakan AL Qur’an tentang pernikahan dua manusia adalah kesejiwaan. Ruh itu, kata Nabi seperti tentara. Jika kodenya sama, maka sandinya akan nyambung, walaupun belum saling melihat, mereka akan sepakat. Nah kalo ada tentara gak nyambung kodenya, ya udah..tembak dulu..urusan belakangan, lha wong kodenya aja gak nyambung. Karena itulah, tanpa membina hubungan lama-lama untuk “penjajagan”, simbah-simbah kita dahulu tetap langgeng sampai akhir hayat, karena kesamaan kode ..misalnya untuk taat dan berbakti kepada orang tua. Nah, apa sih kode dan sandi untuk ruh? Adalah komitmen kepada Allah dan agamanya.itu saja. Itulah kesejiwaan.


2. Azwaajan. Pasangan hidup. Tak perlu berlama-lama, sesudah kesesuaian jiwa, AL Qur’an segera mengatakan bahwa mereka menjadi suami-istri. Kita sering mendengar istilah “ kita harus mencari pasangan yang tepat, maka hubungan akan berhasil.” Sekarang pola pikir harus dibalik menjadi “berhentilah mencari pasangan yang tepat, dan jadikanlah orang disamping anda yang hebat untuk menjadi pasangan yang tepat” . Kalau sudah begitu, pilihan hanya menjadi dua: Menikahi orang dicintai atau mencintai orang yang dinikahi! Yang pertama adalah kemungkinan, sedangkan yang kedua adalah kewajiban.


3. Litaskunuu ilaiha. Supaya kalian tentram, tenang, padanya. Unik sekali. Kata hubung yang dipakai adalah lam (li) yang menunjukkan otomatis. Kata Allah, kalau pernikahan diawali dengan kesejiwaan, maka otomatis, sang suami akan merasakan ketentraman pad istrinya, dan seorang istri akan merasakan ketenangan pada suaminya. Lho?? Kok banyak rumah tangga tidak sakinah (tentram)?? Mungkin karena tidak dimulai dari kesejiwaan sehingga untuk sekedar tenteram saja susahnya minta mapun. Apa sih sakinah itu? Sederhananya, sakinah adalah yang menjadikan pernikahan sebagai separuh agama. Dengannya, orang bisa mengoptimalkan potensinya menjadi hamba Allah, khalifah (pengelola untuk kemaslahatan alam semesta). Tenteram karena gejolak syahwat sudah ada salurannya, tenang karena ada “sahabat” yang menenangkan dan siap mendukung perjuangan.


4. Wa ja’ala baiakum mawaddatan. Kemudian ada yang harus diproses, diupayakan, yakni mawaddah. Mawaddah itu apa ya?? Wah..dalam bahasa Indonesia susah diartikan, karena memang tidak ada kosakata yang pas. Untuk menyebut cinta, bahasa Indonesia hanya mempunyai satu kosakata, sedangkan bahasa arab punya 14 kosakata, dan tiap kosakata mempunyai “rasa” tersendiri. Mudahnya, mawaddah adalah cinta yang erotis-romantis. Bentuknya bisa ekspresi paling batin sampai paling dhahir (fisik) Dari yang emosional sampai yang seksual.


5. Waja’ala bainakum rahmatan. Yang harus diupayakan bukan hanya cinta Mawaddah, tapi juga rahmah. Ini termasuk cinta juga lho, bukan sekedar kasih sayang. Cinta macam mana pula “rahmah” itu?? Cinta ini seperti dalam lagu “kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagaikan surya menyinari dunia” hehehhee. Inilah cinta yang memberi, bukan menunggu, berkorban, bukan menuntut, berinisiatif, bukan menunggu, dan bersedia, bukan berharap-harap. Cinta semacam ini oleh para psikolog disebut “motherly love” atau cinta keibuan.

Nah, sekilas inilah rukun (alur) perayaan cinta yang dituntunkan dalam Al Qur’an. JIka kita mendesain perayaan cinta dengan alur seperti ini, insyaaAllah, pernikahan anda akan sukses sampai akhirat.

Sebentar-sebentar..kok banyak pernikahan yang error?? Nah..biasanya karena plot nya kacau. Pernikahan tidak dimulai dari kesejiwaan, tetapi justru dengan mawaddah. Sebelum menikah, mereka sudah menikmati cinta yang erotis – romantis. Makanya..jangan dulu..mawaddah tuh belakangan setelah kesesuaian jiwa, pernikahan dan ketenangan. Mungkin sebabnya, mungkin lho..sudah tidak ada rasa penasaran, lha semua udah tahu, termasuk jumlah tahi lalat di tubuh aja tahu….apa yang bikin penasaran lagi coba? wekekkekeke

*dari berbagai sumber

Anonim mengatakan...

dedicate for: Buwono rizki

Kalau anda perhatikan, hampir dalam setiap undangan nikah (yang muslim), selalu tertuang Surat Arruum ayat 21. “Dan diantara tanda tanda kekuasaannya ialah Dia menciptakan untuk kalian dari anfus (jiwa-jiwa) kalian sendiri, azwaaja (pasangan hidup), supaya kalian ber-sakinah kepadanya, dan dijadikan-Nya diantara kalian mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”
...
Kalau kita perhatikan, ayat itulah yang seharusnya kita jadikan plot (alur) dalam merayakan yang namanya cinta. Sedihnya lagi, kebanyakan para calon manten yang mencantumkan dengan tinta emas ayat tersebut dalam undangan nikahnya tidak mengetahui dan menghayati maknanya.

Ringkasnya, ada beberapa kata kunci dalam ayat ini.

1. Min anfusikum. Dari jiwa-jiwa kalian. Artinya, hal pertama yang dibicarakan AL Qur’an tentang pernikahan dua manusia adalah kesejiwaan. Ruh itu, kata Nabi seperti tentara. Jika kodenya sama, maka sandinya akan nyambung, walaupun belum saling melihat, mereka akan sepakat. Nah kalo ada tentara gak nyambung kodenya, ya udah..tembak dulu..urusan belakangan, lha wong kodenya aja gak nyambung. Karena itulah, tanpa membina hubungan lama-lama untuk “penjajagan”, simbah-simbah kita dahulu tetap langgeng sampai akhir hayat, karena kesamaan kode ..misalnya untuk taat dan berbakti kepada orang tua. Nah, apa sih kode dan sandi untuk ruh? Adalah komitmen kepada Allah dan agamanya.itu saja. Itulah kesejiwaan.


2. Azwaajan. Pasangan hidup. Tak perlu berlama-lama, sesudah kesesuaian jiwa, AL Qur’an segera mengatakan bahwa mereka menjadi suami-istri. Kita sering mendengar istilah “ kita harus mencari pasangan yang tepat, maka hubungan akan berhasil.” Sekarang pola pikir harus dibalik menjadi “berhentilah mencari pasangan yang tepat, dan jadikanlah orang disamping anda yang hebat untuk menjadi pasangan yang tepat” . Kalau sudah begitu, pilihan hanya menjadi dua: Menikahi orang dicintai atau mencintai orang yang dinikahi! Yang pertama adalah kemungkinan, sedangkan yang kedua adalah kewajiban.


3. Litaskunuu ilaiha. Supaya kalian tentram, tenang, padanya. Unik sekali. Kata hubung yang dipakai adalah lam (li) yang menunjukkan otomatis. Kata Allah, kalau pernikahan diawali dengan kesejiwaan, maka otomatis, sang suami akan merasakan ketentraman pad istrinya, dan seorang istri akan merasakan ketenangan pada suaminya. Lho?? Kok banyak rumah tangga tidak sakinah (tentram)?? Mungkin karena tidak dimulai dari kesejiwaan sehingga untuk sekedar tenteram saja susahnya minta mapun. Apa sih sakinah itu? Sederhananya, sakinah adalah yang menjadikan pernikahan sebagai separuh agama. Dengannya, orang bisa mengoptimalkan potensinya menjadi hamba Allah, khalifah (pengelola untuk kemaslahatan alam semesta). Tenteram karena gejolak syahwat sudah ada salurannya, tenang karena ada “sahabat” yang menenangkan dan siap mendukung perjuangan.


4. Wa ja’ala baiakum mawaddatan. Kemudian ada yang harus diproses, diupayakan, yakni mawaddah. Mawaddah itu apa ya?? Wah..dalam bahasa Indonesia susah diartikan, karena memang tidak ada kosakata yang pas. Untuk menyebut cinta, bahasa Indonesia hanya mempunyai satu kosakata, sedangkan bahasa arab punya 14 kosakata, dan tiap kosakata mempunyai “rasa” tersendiri. Mudahnya, mawaddah adalah cinta yang erotis-romantis. Bentuknya bisa ekspresi paling batin sampai paling dhahir (fisik) Dari yang emosional sampai yang seksual.


5. Waja’ala bainakum rahmatan. Yang harus diupayakan bukan hanya cinta Mawaddah, tapi juga rahmah. Ini termasuk cinta juga lho, bukan sekedar kasih sayang. Cinta macam mana pula “rahmah” itu?? Cinta ini seperti dalam lagu “kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagaikan surya menyinari dunia” hehehhee. Inilah cinta yang memberi, bukan menunggu, berkorban, bukan menuntut, berinisiatif, bukan menunggu, dan bersedia, bukan berharap-harap. Cinta semacam ini oleh para psikolog disebut “motherly love” atau cinta keibuan.

Nah, sekilas inilah rukun (alur) perayaan cinta yang dituntunkan dalam Al Qur’an. JIka kita mendesain perayaan cinta dengan alur seperti ini, insyaaAllah, pernikahan anda akan sukses sampai akhirat.

Sebentar-sebentar..kok banyak pernikahan yang error?? Nah..biasanya karena plot nya kacau. Pernikahan tidak dimulai dari kesejiwaan, tetapi justru dengan mawaddah. Sebelum menikah, mereka sudah menikmati cinta yang erotis – romantis. Makanya..jangan dulu..mawaddah tuh belakangan setelah kesesuaian jiwa, pernikahan dan ketenangan. Mungkin sebabnya, mungkin lho..sudah tidak ada rasa penasaran, lha semua udah tahu, termasuk jumlah tahi lalat di tubuh aja tahu….apa yang bikin penasaran lagi coba? wekekkekeke

*dari berbagai sumber

ayas mengatakan...

dedicate for: Buwono rizki

Kalau anda perhatikan, hampir dalam setiap undangan nikah (yang muslim), selalu tertuang Surat Arruum ayat 21. “Dan diantara tanda tanda kekuasaannya ialah Dia menciptakan untuk kalian dari anfus (jiwa-jiwa) kalian sendiri, azwaaja (pasangan hidup), supaya kalian ber-sakinah kepadanya, dan dijadikan-Nya diantara kalian mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”
...
Kalau kita perhatikan, ayat itulah yang seharusnya kita jadikan plot (alur) dalam merayakan yang namanya cinta. Sedihnya lagi, kebanyakan para calon manten yang mencantumkan dengan tinta emas ayat tersebut dalam undangan nikahnya tidak mengetahui dan menghayati maknanya.

Ringkasnya, ada beberapa kata kunci dalam ayat ini.

1. Min anfusikum. Dari jiwa-jiwa kalian. Artinya, hal pertama yang dibicarakan AL Qur’an tentang pernikahan dua manusia adalah kesejiwaan. Ruh itu, kata Nabi seperti tentara. Jika kodenya sama, maka sandinya akan nyambung, walaupun belum saling melihat, mereka akan sepakat. Nah kalo ada tentara gak nyambung kodenya, ya udah..tembak dulu..urusan belakangan, lha wong kodenya aja gak nyambung. Karena itulah, tanpa membina hubungan lama-lama untuk “penjajagan”, simbah-simbah kita dahulu tetap langgeng sampai akhir hayat, karena kesamaan kode ..misalnya untuk taat dan berbakti kepada orang tua. Nah, apa sih kode dan sandi untuk ruh? Adalah komitmen kepada Allah dan agamanya.itu saja. Itulah kesejiwaan.


2. Azwaajan. Pasangan hidup. Tak perlu berlama-lama, sesudah kesesuaian jiwa, AL Qur’an segera mengatakan bahwa mereka menjadi suami-istri. Kita sering mendengar istilah “ kita harus mencari pasangan yang tepat, maka hubungan akan berhasil.” Sekarang pola pikir harus dibalik menjadi “berhentilah mencari pasangan yang tepat, dan jadikanlah orang disamping anda yang hebat untuk menjadi pasangan yang tepat” . Kalau sudah begitu, pilihan hanya menjadi dua: Menikahi orang dicintai atau mencintai orang yang dinikahi! Yang pertama adalah kemungkinan, sedangkan yang kedua adalah kewajiban.


3. Litaskunuu ilaiha. Supaya kalian tentram, tenang, padanya. Unik sekali. Kata hubung yang dipakai adalah lam (li) yang menunjukkan otomatis. Kata Allah, kalau pernikahan diawali dengan kesejiwaan, maka otomatis, sang suami akan merasakan ketentraman pad istrinya, dan seorang istri akan merasakan ketenangan pada suaminya. Lho?? Kok banyak rumah tangga tidak sakinah (tentram)?? Mungkin karena tidak dimulai dari kesejiwaan sehingga untuk sekedar tenteram saja susahnya minta mapun. Apa sih sakinah itu? Sederhananya, sakinah adalah yang menjadikan pernikahan sebagai separuh agama. Dengannya, orang bisa mengoptimalkan potensinya menjadi hamba Allah, khalifah (pengelola untuk kemaslahatan alam semesta). Tenteram karena gejolak syahwat sudah ada salurannya, tenang karena ada “sahabat” yang menenangkan dan siap mendukung perjuangan.


4. Wa ja’ala baiakum mawaddatan. Kemudian ada yang harus diproses, diupayakan, yakni mawaddah. Mawaddah itu apa ya?? Wah..dalam bahasa Indonesia susah diartikan, karena memang tidak ada kosakata yang pas. Untuk menyebut cinta, bahasa Indonesia hanya mempunyai satu kosakata, sedangkan bahasa arab punya 14 kosakata, dan tiap kosakata mempunyai “rasa” tersendiri. Mudahnya, mawaddah adalah cinta yang erotis-romantis. Bentuknya bisa ekspresi paling batin sampai paling dhahir (fisik) Dari yang emosional sampai yang seksual.


5. Waja’ala bainakum rahmatan. Yang harus diupayakan bukan hanya cinta Mawaddah, tapi juga rahmah. Ini termasuk cinta juga lho, bukan sekedar kasih sayang. Cinta macam mana pula “rahmah” itu?? Cinta ini seperti dalam lagu “kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagaikan surya menyinari dunia” hehehhee. Inilah cinta yang memberi, bukan menunggu, berkorban, bukan menuntut, berinisiatif, bukan menunggu, dan bersedia, bukan berharap-harap. Cinta semacam ini oleh para psikolog disebut “motherly love” atau cinta keibuan.

Nah, sekilas inilah rukun (alur) perayaan cinta yang dituntunkan dalam Al Qur’an. JIka kita mendesain perayaan cinta dengan alur seperti ini, insyaaAllah, pernikahan anda akan sukses sampai akhirat.

Sebentar-sebentar..kok banyak pernikahan yang error?? Nah..biasanya karena plot nya kacau. Pernikahan tidak dimulai dari kesejiwaan, tetapi justru dengan mawaddah. Sebelum menikah, mereka sudah menikmati cinta yang erotis – romantis. Makanya..jangan dulu..mawaddah tuh belakangan setelah kesesuaian jiwa, pernikahan dan ketenangan. Mungkin sebabnya, mungkin lho..sudah tidak ada rasa penasaran, lha semua udah tahu, termasuk jumlah tahi lalat di tubuh aja tahu….apa yang bikin penasaran lagi coba? wekekkekeke

*dari berbagai sumber

parto_sentono mengatakan...

dedicate for: Buwono rizki

Kalau anda perhatikan, hampir dalam setiap undangan nikah (yang muslim), selalu tertuang Surat Arruum ayat 21. “Dan diantara tanda tanda kekuasaannya ialah Dia menciptakan untuk kalian dari anfus (jiwa-jiwa) kalian sendiri, azwaaja (pasangan hidup), supaya kalian ber-sakinah kepadanya, dan dijadikan-Nya diantara kalian mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”
...
Kalau kita perhatikan, ayat itulah yang seharusnya kita jadikan plot (alur) dalam merayakan yang namanya cinta. Sedihnya lagi, kebanyakan para calon manten yang mencantumkan dengan tinta emas ayat tersebut dalam undangan nikahnya tidak mengetahui dan menghayati maknanya.

Ringkasnya, ada beberapa kata kunci dalam ayat ini.

1. Min anfusikum. Dari jiwa-jiwa kalian. Artinya, hal pertama yang dibicarakan AL Qur’an tentang pernikahan dua manusia adalah kesejiwaan. Ruh itu, kata Nabi seperti tentara. Jika kodenya sama, maka sandinya akan nyambung, walaupun belum saling melihat, mereka akan sepakat. Nah kalo ada tentara gak nyambung kodenya, ya udah..tembak dulu..urusan belakangan, lha wong kodenya aja gak nyambung. Karena itulah, tanpa membina hubungan lama-lama untuk “penjajagan”, simbah-simbah kita dahulu tetap langgeng sampai akhir hayat, karena kesamaan kode ..misalnya untuk taat dan berbakti kepada orang tua. Nah, apa sih kode dan sandi untuk ruh? Adalah komitmen kepada Allah dan agamanya.itu saja. Itulah kesejiwaan.


2. Azwaajan. Pasangan hidup. Tak perlu berlama-lama, sesudah kesesuaian jiwa, AL Qur’an segera mengatakan bahwa mereka menjadi suami-istri. Kita sering mendengar istilah “ kita harus mencari pasangan yang tepat, maka hubungan akan berhasil.” Sekarang pola pikir harus dibalik menjadi “berhentilah mencari pasangan yang tepat, dan jadikanlah orang disamping anda yang hebat untuk menjadi pasangan yang tepat” . Kalau sudah begitu, pilihan hanya menjadi dua: Menikahi orang dicintai atau mencintai orang yang dinikahi! Yang pertama adalah kemungkinan, sedangkan yang kedua adalah kewajiban.


3. Litaskunuu ilaiha. Supaya kalian tentram, tenang, padanya. Unik sekali. Kata hubung yang dipakai adalah lam (li) yang menunjukkan otomatis. Kata Allah, kalau pernikahan diawali dengan kesejiwaan, maka otomatis, sang suami akan merasakan ketentraman pad istrinya, dan seorang istri akan merasakan ketenangan pada suaminya. Lho?? Kok banyak rumah tangga tidak sakinah (tentram)?? Mungkin karena tidak dimulai dari kesejiwaan sehingga untuk sekedar tenteram saja susahnya minta mapun. Apa sih sakinah itu? Sederhananya, sakinah adalah yang menjadikan pernikahan sebagai separuh agama. Dengannya, orang bisa mengoptimalkan potensinya menjadi hamba Allah, khalifah (pengelola untuk kemaslahatan alam semesta). Tenteram karena gejolak syahwat sudah ada salurannya, tenang karena ada “sahabat” yang menenangkan dan siap mendukung perjuangan.


4. Wa ja’ala baiakum mawaddatan. Kemudian ada yang harus diproses, diupayakan, yakni mawaddah. Mawaddah itu apa ya?? Wah..dalam bahasa Indonesia susah diartikan, karena memang tidak ada kosakata yang pas. Untuk menyebut cinta, bahasa Indonesia hanya mempunyai satu kosakata, sedangkan bahasa arab punya 14 kosakata, dan tiap kosakata mempunyai “rasa” tersendiri. Mudahnya, mawaddah adalah cinta yang erotis-romantis. Bentuknya bisa ekspresi paling batin sampai paling dhahir (fisik) Dari yang emosional sampai yang seksual.


5. Waja’ala bainakum rahmatan. Yang harus diupayakan bukan hanya cinta Mawaddah, tapi juga rahmah. Ini termasuk cinta juga lho, bukan sekedar kasih sayang. Cinta macam mana pula “rahmah” itu?? Cinta ini seperti dalam lagu “kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagaikan surya menyinari dunia” hehehhee. Inilah cinta yang memberi, bukan menunggu, berkorban, bukan menuntut, berinisiatif, bukan menunggu, dan bersedia, bukan berharap-harap. Cinta semacam ini oleh para psikolog disebut “motherly love” atau cinta keibuan.

Nah, sekilas inilah rukun (alur) perayaan cinta yang dituntunkan dalam Al Qur’an. JIka kita mendesain perayaan cinta dengan alur seperti ini, insyaaAllah, pernikahan anda akan sukses sampai akhirat.

Sebentar-sebentar..kok banyak pernikahan yang error?? Nah..biasanya karena plot nya kacau. Pernikahan tidak dimulai dari kesejiwaan, tetapi justru dengan mawaddah. Sebelum menikah, mereka sudah menikmati cinta yang erotis – romantis. Makanya..jangan dulu..mawaddah tuh belakangan setelah kesesuaian jiwa, pernikahan dan ketenangan. Mungkin sebabnya, mungkin lho..sudah tidak ada rasa penasaran, lha semua udah tahu, termasuk jumlah tahi lalat di tubuh aja tahu….apa yang bikin penasaran lagi coba? wekekkekeke

*dari berbagai sumber