kalo mbak ini mengaku jijik dengan salak,walaupun tidak bisa memberikan alasan yang ilmiah, saya pribadi paling gak seneng sama yang namanya duren.
Saya cukup punya banyak alasan logis untuk tidak menyukai buah duren.
1. Harganya mahal
ini sebenarnya yang menjadi alasan utama. Sebuah duren besar harganya bisa mencapai 40 ribu. Coba kalo dialokasikan untuk nempur alias beli beras, bisa buat makan seminggu lebih.
2. Daging buahnya sedikit
Sebuah duren dengan berat 3 Kg, saya yakin yang bisa dimakan tidak lebih dari setengah kilogram. Dengan catatan saya tidak memasukkan berat ponggenya (pongge adalah sebutan biji duren dalam basa jawa mataraman)
3. Baunya menyengat
Banyak yang bilang duren baunya nikmat, tapi entah..saya pribadi cenderung menganggap bau duren mirip-mirip rendaman cucian yang sudah 3 hari gak di cuci.
4. Bagi yang tidak kuat bisa mabuk
Makan duren, bagi sebagian orang bisa memabukkan, beberapa kali saya menemui orang yang teler akibat makan duren.
5. Bau mulut
Setelah makan duren, sang pemakan menjadi sangat berbau mulutnya. Ini mengakibatkan putusnya hubungan silaturahmi dengan orang yang anti duren seperti saya.
Jadi saya sarankan, mending uang yang buat beli duren, dibelikan beras, bisa untuk persediaan makanan. atau buah yang lain misalnya mangga. Dijamin lebih bergizi. Atau dibelikan Pepaya, dijamin terlepas dari kesulitan buang air besar.
18 Desember, 2008
16 Desember, 2008
sinkronisasi cara berpikir
tadi sore, ponakanku yang lucu dan mulai nakal, usia usia play group, "membuang" beras cukup banyak (kalo cuman 2 kilo ada) ke saluran irigasi sebelah rumah. Yach, desa tempat tinggalku saat ini memang cukup ndeso, desa trini tercinta yang masih cukup banyak sawah terhampar.
kembali ke tema semula kekkekke, ketika ketahuan ibunya a.k.a mbakyuku, ponakanku tersebut langsung dimarahin dan di tarik masuk rumah. Berbagai nasihat berbusa busa keluar dari mulut mbakku. Nasihat tentang sayang makanan, tentang bersyukur, tentang empati orang lain yang susah makan...dan saya yakin, anak sekecil itu (iwan fals mode ON) tak akan paham dengan nasihat-nasihat "berat" seperti itu. Dan akhirnya, ponakanku cuman bisa menangis karena permainan mengasyikkannya di interupsi secara kasar.
Habis maghrib, saya coba bertanya sama ponakanku tadi
parto: "dik, kok tadi nangis kenapa?"
ponakan: "dimarahi umi, karena masukin beras ke parit"
parto: "lah..kok beras di buang ke parit kenapa?"
ponakan: "enggak tak buang om...di parit kan banyak katak kecil dan kecebongnya..kasihan gak ada yang ngasih makan.. nanti bisa mati kelaparan.."
Nb: dialog berlangsung dalam bahasa jawa
deg!!! jawaban polos membuat saya tersentak. asli tersentak!!. Ternyata yang dilakukan ponakanku bukan bermaksud "membuang makanan", tapi "memberi makan" katak kecil dan kecebong yang menghuni saluran tersebut. kalo yang ini cebong yang benar-benar cebong, dan bukan cebong yang ini kekekke..piss mbak....
penjelasan yang terdengar masih agak cedal tersebut membuat saya sadar, bahwa pola pikir anak anak yang polos, sangat jauh berbeda dengan cara berpikir kita. Harusnya kita yang menyesuaikan pola pikir kita dengan anak-anak yang polos tanpa dosa tersebut, bukan memaksa anak-anak polos tersebut menelan paksa logika-logika berat yang bukan porsi anak-anak. Bukan begitu anak-anak????
kembali ke tema semula kekkekke, ketika ketahuan ibunya a.k.a mbakyuku, ponakanku tersebut langsung dimarahin dan di tarik masuk rumah. Berbagai nasihat berbusa busa keluar dari mulut mbakku. Nasihat tentang sayang makanan, tentang bersyukur, tentang empati orang lain yang susah makan...dan saya yakin, anak sekecil itu (iwan fals mode ON) tak akan paham dengan nasihat-nasihat "berat" seperti itu. Dan akhirnya, ponakanku cuman bisa menangis karena permainan mengasyikkannya di interupsi secara kasar.
Habis maghrib, saya coba bertanya sama ponakanku tadi
parto: "dik, kok tadi nangis kenapa?"
ponakan: "dimarahi umi, karena masukin beras ke parit"
parto: "lah..kok beras di buang ke parit kenapa?"
ponakan: "enggak tak buang om...di parit kan banyak katak kecil dan kecebongnya..kasihan gak ada yang ngasih makan.. nanti bisa mati kelaparan.."
Nb: dialog berlangsung dalam bahasa jawa
deg!!! jawaban polos membuat saya tersentak. asli tersentak!!. Ternyata yang dilakukan ponakanku bukan bermaksud "membuang makanan", tapi "memberi makan" katak kecil dan kecebong yang menghuni saluran tersebut. kalo yang ini cebong yang benar-benar cebong, dan bukan cebong yang ini kekekke..piss mbak....
penjelasan yang terdengar masih agak cedal tersebut membuat saya sadar, bahwa pola pikir anak anak yang polos, sangat jauh berbeda dengan cara berpikir kita. Harusnya kita yang menyesuaikan pola pikir kita dengan anak-anak yang polos tanpa dosa tersebut, bukan memaksa anak-anak polos tersebut menelan paksa logika-logika berat yang bukan porsi anak-anak. Bukan begitu anak-anak????
15 Desember, 2008
Rupo oh Rupo
pada suatu ketika, helm saya ada yang naksir sehingga lenyap tanpa bekas di parkiran universitas janabadra yogya. Yach, karena saya menganut paham safety riding dan berkeyakinan bahwa helm bukanlah assesoris semata untuk menakut-nakuti polisi, saya meluncur ke daerah bumijo untuk membeli helm standar.
masuk ke kios yang cukup sumpek, mata saya tertarik pada deretan helm di rak agak atas, tanpa basa basi saya memanggil yang jaga kios tersebut, terjadilah dialog
Parto: "mbak, helm kae (menunjuk rak atas) regane piro? (mbak, helm itu harganya berapa?"
mbak ayune: "mas, sing ning dhuwur kui regane larang, mending sing ning ngisor wae murah" (mas, yang sebelah atas harganya mahal, mending yang bawah aja, murah..)"
mendengar jawaban mbak cantik penjaga kios tadi, sepontan saya berkata agak "sedikit" keras... kalo tidak salah ucapan saya seperti ini "mbak... celukno sing due kios iki..kiose tak tuku kabeh" (mbak, tolong panggilkan yang punya kios ini, kiosnya saya beli semua). dan kemudian saya ngeloyor pergi begitu saja. Sampai pintu keluar, saya berbalik lagi dan berkata "mbak..nek kowe kui di dol, paling kowe melu tak tuku" (mbak, kalo kamu dijual, mungkin ikut saya beli). terus terang saya cukup tersinggung. hehehhe... dan akhirnya saya tidak jadi beli di kios tersebut, dan memilih membeli di kios sebelahnya.
Sampai rumah, saya teringat kejadian di kios tadi, dan otomatis juga kemudian saya melihat diri saya di cermin. terpampanglah sosok agak tembem, dengan kulit hitam (kebanyakan berjemur nungguin jembatan), rambut awut awutan, keringat meleleh dan juga gigi besar kuning-kuning. dan akhirnya saya sadar...memang dari tampang saja, memang seperti tidak ada bakat jadi orang kaya.
akhirnya saya maklum dengan ucapan mbak tadi yang mungkin bermaksud baik. Dan untuk mbak penjaga kios yang mungkin membaca tulisan ini, saya mohon maaf sebesar-besarnya atas ucapan saya yang kasar.
masuk ke kios yang cukup sumpek, mata saya tertarik pada deretan helm di rak agak atas, tanpa basa basi saya memanggil yang jaga kios tersebut, terjadilah dialog
Parto: "mbak, helm kae (menunjuk rak atas) regane piro? (mbak, helm itu harganya berapa?"
mbak ayune: "mas, sing ning dhuwur kui regane larang, mending sing ning ngisor wae murah" (mas, yang sebelah atas harganya mahal, mending yang bawah aja, murah..)"
mendengar jawaban mbak cantik penjaga kios tadi, sepontan saya berkata agak "sedikit" keras... kalo tidak salah ucapan saya seperti ini "mbak... celukno sing due kios iki..kiose tak tuku kabeh" (mbak, tolong panggilkan yang punya kios ini, kiosnya saya beli semua). dan kemudian saya ngeloyor pergi begitu saja. Sampai pintu keluar, saya berbalik lagi dan berkata "mbak..nek kowe kui di dol, paling kowe melu tak tuku" (mbak, kalo kamu dijual, mungkin ikut saya beli). terus terang saya cukup tersinggung. hehehhe... dan akhirnya saya tidak jadi beli di kios tersebut, dan memilih membeli di kios sebelahnya.
Sampai rumah, saya teringat kejadian di kios tadi, dan otomatis juga kemudian saya melihat diri saya di cermin. terpampanglah sosok agak tembem, dengan kulit hitam (kebanyakan berjemur nungguin jembatan), rambut awut awutan, keringat meleleh dan juga gigi besar kuning-kuning. dan akhirnya saya sadar...memang dari tampang saja, memang seperti tidak ada bakat jadi orang kaya.
akhirnya saya maklum dengan ucapan mbak tadi yang mungkin bermaksud baik. Dan untuk mbak penjaga kios yang mungkin membaca tulisan ini, saya mohon maaf sebesar-besarnya atas ucapan saya yang kasar.
14 Desember, 2008
met rabi (mas rizki)
Seorang teman di semarang, yang baru pertama kali ketemu, siang tadi baru saja melangsungkan pernikahannya yang pertama. Mas Buwono Rizki, yang saya kenal secara tidak sengaja dalam konfren ym liar di siang bolong.
Sebenarnya saya cukup malu dengan beliau, berhubung pas konpren itu, omongannya saya cukup ra nggenah, padahal setelah kenal cukup akrab, beliau ternyata seorang ustadz...minimal ustadz untuk istri dan anak anaknya kelak.
kali ini saya pribadi mengucapkan "barakallahu laka, wa barakallahu 'alaika, wajama'a baina kuma fi khair"
saya yakin sekali, malem ini mas rizki belum tidur walaupun tidak online di ym, mungkin baru "dakon" sama istri resminya, atau mungkin baru "ngetap oli" kekekkekke...
selamat datang dihutan belantara mas...hutan belantara dalam arti konotatif maupun denotatif kekkekeke
Sebenarnya saya cukup malu dengan beliau, berhubung pas konpren itu, omongannya saya cukup ra nggenah, padahal setelah kenal cukup akrab, beliau ternyata seorang ustadz...minimal ustadz untuk istri dan anak anaknya kelak.
kali ini saya pribadi mengucapkan "barakallahu laka, wa barakallahu 'alaika, wajama'a baina kuma fi khair"
saya yakin sekali, malem ini mas rizki belum tidur walaupun tidak online di ym, mungkin baru "dakon" sama istri resminya, atau mungkin baru "ngetap oli" kekekkekke...
selamat datang dihutan belantara mas...hutan belantara dalam arti konotatif maupun denotatif kekkekeke
Langganan:
Postingan (Atom)
