tadi sore, ponakanku yang lucu dan mulai nakal, usia usia play group, "membuang" beras cukup banyak (kalo cuman 2 kilo ada) ke saluran irigasi sebelah rumah. Yach, desa tempat tinggalku saat ini memang cukup ndeso, desa trini tercinta yang masih cukup banyak sawah terhampar.
kembali ke tema semula kekkekke, ketika ketahuan ibunya a.k.a mbakyuku, ponakanku tersebut langsung dimarahin dan di tarik masuk rumah. Berbagai nasihat berbusa busa keluar dari mulut mbakku. Nasihat tentang sayang makanan, tentang bersyukur, tentang empati orang lain yang susah makan...dan saya yakin, anak sekecil itu (iwan fals mode ON) tak akan paham dengan nasihat-nasihat "berat" seperti itu. Dan akhirnya, ponakanku cuman bisa menangis karena permainan mengasyikkannya di interupsi secara kasar.
Habis maghrib, saya coba bertanya sama ponakanku tadi
parto: "dik, kok tadi nangis kenapa?"
ponakan: "dimarahi umi, karena masukin beras ke parit"
parto: "lah..kok beras di buang ke parit kenapa?"
ponakan: "enggak tak buang om...di parit kan banyak katak kecil dan kecebongnya..kasihan gak ada yang ngasih makan.. nanti bisa mati kelaparan.."
Nb: dialog berlangsung dalam bahasa jawa
deg!!! jawaban polos membuat saya tersentak. asli tersentak!!. Ternyata yang dilakukan ponakanku bukan bermaksud "membuang makanan", tapi "memberi makan" katak kecil dan kecebong yang menghuni saluran tersebut. kalo yang ini cebong yang benar-benar cebong, dan bukan cebong yang ini kekekke..piss mbak....
penjelasan yang terdengar masih agak cedal tersebut membuat saya sadar, bahwa pola pikir anak anak yang polos, sangat jauh berbeda dengan cara berpikir kita. Harusnya kita yang menyesuaikan pola pikir kita dengan anak-anak yang polos tanpa dosa tersebut, bukan memaksa anak-anak polos tersebut menelan paksa logika-logika berat yang bukan porsi anak-anak. Bukan begitu anak-anak????
16 Desember, 2008
15 Desember, 2008
Rupo oh Rupo
pada suatu ketika, helm saya ada yang naksir sehingga lenyap tanpa bekas di parkiran universitas janabadra yogya. Yach, karena saya menganut paham safety riding dan berkeyakinan bahwa helm bukanlah assesoris semata untuk menakut-nakuti polisi, saya meluncur ke daerah bumijo untuk membeli helm standar.
masuk ke kios yang cukup sumpek, mata saya tertarik pada deretan helm di rak agak atas, tanpa basa basi saya memanggil yang jaga kios tersebut, terjadilah dialog
Parto: "mbak, helm kae (menunjuk rak atas) regane piro? (mbak, helm itu harganya berapa?"
mbak ayune: "mas, sing ning dhuwur kui regane larang, mending sing ning ngisor wae murah" (mas, yang sebelah atas harganya mahal, mending yang bawah aja, murah..)"
mendengar jawaban mbak cantik penjaga kios tadi, sepontan saya berkata agak "sedikit" keras... kalo tidak salah ucapan saya seperti ini "mbak... celukno sing due kios iki..kiose tak tuku kabeh" (mbak, tolong panggilkan yang punya kios ini, kiosnya saya beli semua). dan kemudian saya ngeloyor pergi begitu saja. Sampai pintu keluar, saya berbalik lagi dan berkata "mbak..nek kowe kui di dol, paling kowe melu tak tuku" (mbak, kalo kamu dijual, mungkin ikut saya beli). terus terang saya cukup tersinggung. hehehhe... dan akhirnya saya tidak jadi beli di kios tersebut, dan memilih membeli di kios sebelahnya.
Sampai rumah, saya teringat kejadian di kios tadi, dan otomatis juga kemudian saya melihat diri saya di cermin. terpampanglah sosok agak tembem, dengan kulit hitam (kebanyakan berjemur nungguin jembatan), rambut awut awutan, keringat meleleh dan juga gigi besar kuning-kuning. dan akhirnya saya sadar...memang dari tampang saja, memang seperti tidak ada bakat jadi orang kaya.
akhirnya saya maklum dengan ucapan mbak tadi yang mungkin bermaksud baik. Dan untuk mbak penjaga kios yang mungkin membaca tulisan ini, saya mohon maaf sebesar-besarnya atas ucapan saya yang kasar.
masuk ke kios yang cukup sumpek, mata saya tertarik pada deretan helm di rak agak atas, tanpa basa basi saya memanggil yang jaga kios tersebut, terjadilah dialog
Parto: "mbak, helm kae (menunjuk rak atas) regane piro? (mbak, helm itu harganya berapa?"
mbak ayune: "mas, sing ning dhuwur kui regane larang, mending sing ning ngisor wae murah" (mas, yang sebelah atas harganya mahal, mending yang bawah aja, murah..)"
mendengar jawaban mbak cantik penjaga kios tadi, sepontan saya berkata agak "sedikit" keras... kalo tidak salah ucapan saya seperti ini "mbak... celukno sing due kios iki..kiose tak tuku kabeh" (mbak, tolong panggilkan yang punya kios ini, kiosnya saya beli semua). dan kemudian saya ngeloyor pergi begitu saja. Sampai pintu keluar, saya berbalik lagi dan berkata "mbak..nek kowe kui di dol, paling kowe melu tak tuku" (mbak, kalo kamu dijual, mungkin ikut saya beli). terus terang saya cukup tersinggung. hehehhe... dan akhirnya saya tidak jadi beli di kios tersebut, dan memilih membeli di kios sebelahnya.
Sampai rumah, saya teringat kejadian di kios tadi, dan otomatis juga kemudian saya melihat diri saya di cermin. terpampanglah sosok agak tembem, dengan kulit hitam (kebanyakan berjemur nungguin jembatan), rambut awut awutan, keringat meleleh dan juga gigi besar kuning-kuning. dan akhirnya saya sadar...memang dari tampang saja, memang seperti tidak ada bakat jadi orang kaya.
akhirnya saya maklum dengan ucapan mbak tadi yang mungkin bermaksud baik. Dan untuk mbak penjaga kios yang mungkin membaca tulisan ini, saya mohon maaf sebesar-besarnya atas ucapan saya yang kasar.
14 Desember, 2008
met rabi (mas rizki)
Seorang teman di semarang, yang baru pertama kali ketemu, siang tadi baru saja melangsungkan pernikahannya yang pertama. Mas Buwono Rizki, yang saya kenal secara tidak sengaja dalam konfren ym liar di siang bolong.
Sebenarnya saya cukup malu dengan beliau, berhubung pas konpren itu, omongannya saya cukup ra nggenah, padahal setelah kenal cukup akrab, beliau ternyata seorang ustadz...minimal ustadz untuk istri dan anak anaknya kelak.
kali ini saya pribadi mengucapkan "barakallahu laka, wa barakallahu 'alaika, wajama'a baina kuma fi khair"
saya yakin sekali, malem ini mas rizki belum tidur walaupun tidak online di ym, mungkin baru "dakon" sama istri resminya, atau mungkin baru "ngetap oli" kekekkekke...
selamat datang dihutan belantara mas...hutan belantara dalam arti konotatif maupun denotatif kekkekeke
Sebenarnya saya cukup malu dengan beliau, berhubung pas konpren itu, omongannya saya cukup ra nggenah, padahal setelah kenal cukup akrab, beliau ternyata seorang ustadz...minimal ustadz untuk istri dan anak anaknya kelak.
kali ini saya pribadi mengucapkan "barakallahu laka, wa barakallahu 'alaika, wajama'a baina kuma fi khair"
saya yakin sekali, malem ini mas rizki belum tidur walaupun tidak online di ym, mungkin baru "dakon" sama istri resminya, atau mungkin baru "ngetap oli" kekekkekke...
selamat datang dihutan belantara mas...hutan belantara dalam arti konotatif maupun denotatif kekkekeke
11 Desember, 2008
Netonmu opo??
Suatu saat, dikala hujan rintik rintik. Udara malam seolah membekukan tulang belulang. Saya malam itu kejatah ronda. Sebagai warga negara yang baik, ronda memang suatu kewajiban untuk menjaga lingkungan kita agar bebas dari penjahat-penjahat berwatak jahat. (padahal jam 12 malem udah bubar, jam segitu maling-maling baru pada dandan mau berangkat kerja)
Ronda memang momen menyenangkan, pos ronda mesti rame, do dolanan gaple, ono kopi panas gorengan tahu tempe.
Obrolan malam itu berlangsung seru, mulai dari obrolan metodologi ternak sapi yang efektif, extreme kuliner (sate bekicot), krisis global, sampai obrolan tentang harga bbm kita yang ternyata lebih tinggi dari harga minyak dunia.
tersebutlah..seorang tetanggaku. bernama lek wandi. Lek wandi sudah cukup umur (hampir 40 tahun), masih menganggur, kerjaannya klontang-klantung gak jelas dan belum menikah. Terjadilah dialog yang asli lucu sekaligus menyakitkan. Dialog antara pak narko dan lek wandi
Pak Narko : "ndi, koe ki netone opo?"
Lek Wandi : "netonku jemuah pahing pak, ha piye je?"
Pak Narko : "nah..nek netonmu jemuah pahing, kowe ki cocoke cen klontang klantung ora kerjo ngunu kui, ra due bojo tekane mati..wis..kui sing paling cocok kanggo kowe"
Lek Wandi : "wuuaaasyuuuu"
Gerrrr...seisi cakruk terpingkal pingkal. Sedangkan saya...melihat ekspresi lek Wandi yang hatinya hancur berkeping-keping, hanya tersenyum kecut, membayangkan betapa sakitnya hati lek wandi.
Guyonan kadang-kadang memang menyakitkan...
Ronda memang momen menyenangkan, pos ronda mesti rame, do dolanan gaple, ono kopi panas gorengan tahu tempe.
Obrolan malam itu berlangsung seru, mulai dari obrolan metodologi ternak sapi yang efektif, extreme kuliner (sate bekicot), krisis global, sampai obrolan tentang harga bbm kita yang ternyata lebih tinggi dari harga minyak dunia.
tersebutlah..seorang tetanggaku. bernama lek wandi. Lek wandi sudah cukup umur (hampir 40 tahun), masih menganggur, kerjaannya klontang-klantung gak jelas dan belum menikah. Terjadilah dialog yang asli lucu sekaligus menyakitkan. Dialog antara pak narko dan lek wandi
Pak Narko : "ndi, koe ki netone opo?"
Lek Wandi : "netonku jemuah pahing pak, ha piye je?"
Pak Narko : "nah..nek netonmu jemuah pahing, kowe ki cocoke cen klontang klantung ora kerjo ngunu kui, ra due bojo tekane mati..wis..kui sing paling cocok kanggo kowe"
Lek Wandi : "wuuaaasyuuuu"
Gerrrr...seisi cakruk terpingkal pingkal. Sedangkan saya...melihat ekspresi lek Wandi yang hatinya hancur berkeping-keping, hanya tersenyum kecut, membayangkan betapa sakitnya hati lek wandi.
Guyonan kadang-kadang memang menyakitkan...
Langganan:
Postingan (Atom)
