26 Agustus, 2008

ALUR PERAYAAN CINTA

dedicate for: Buwono rizki

Kalau anda perhatikan, hampir dalam setiap undangan nikah (yang muslim), selalu tertuang Surat Arruum ayat 21. “Dan diantara tanda tanda kekuasaannya ialah Dia menciptakan untuk kalian dari anfus (jiwa-jiwa) kalian sendiri, azwaaja (pasangan hidup), supaya kalian ber-sakinah kepadanya, dan dijadikan-Nya diantara kalian mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”
...
Kalau kita perhatikan, ayat itulah yang seharusnya kita jadikan plot (alur) dalam merayakan yang namanya cinta. Sedihnya lagi, kebanyakan para calon manten yang mencantumkan dengan tinta emas ayat tersebut dalam undangan nikahnya tidak mengetahui dan menghayati maknanya.

Ringkasnya, ada beberapa kata kunci dalam ayat ini.

1. Min anfusikum. Dari jiwa-jiwa kalian. Artinya, hal pertama yang dibicarakan AL Qur’an tentang pernikahan dua manusia adalah kesejiwaan. Ruh itu, kata Nabi seperti tentara. Jika kodenya sama, maka sandinya akan nyambung, walaupun belum saling melihat, mereka akan sepakat. Nah kalo ada tentara gak nyambung kodenya, ya udah..tembak dulu..urusan belakangan, lha wong kodenya aja gak nyambung. Karena itulah, tanpa membina hubungan lama-lama untuk “penjajagan”, simbah-simbah kita dahulu tetap langgeng sampai akhir hayat, karena kesamaan kode ..misalnya untuk taat dan berbakti kepada orang tua. Nah, apa sih kode dan sandi untuk ruh? Adalah komitmen kepada Allah dan agamanya.itu saja. Itulah kesejiwaan.


2. Azwaajan. Pasangan hidup. Tak perlu berlama-lama, sesudah kesesuaian jiwa, AL Qur’an segera mengatakan bahwa mereka menjadi suami-istri. Kita sering mendengar istilah “ kita harus mencari pasangan yang tepat, maka hubungan akan berhasil.” Sekarang pola pikir harus dibalik menjadi “berhentilah mencari pasangan yang tepat, dan jadikanlah orang disamping anda yang hebat untuk menjadi pasangan yang tepat” . Kalau sudah begitu, pilihan hanya menjadi dua: Menikahi orang dicintai atau mencintai orang yang dinikahi! Yang pertama adalah kemungkinan, sedangkan yang kedua adalah kewajiban.


3. Litaskunuu ilaiha. Supaya kalian tentram, tenang, padanya. Unik sekali. Kata hubung yang dipakai adalah lam (li) yang menunjukkan otomatis. Kata Allah, kalau pernikahan diawali dengan kesejiwaan, maka otomatis, sang suami akan merasakan ketentraman pad istrinya, dan seorang istri akan merasakan ketenangan pada suaminya. Lho?? Kok banyak rumah tangga tidak sakinah (tentram)?? Mungkin karena tidak dimulai dari kesejiwaan sehingga untuk sekedar tenteram saja susahnya minta mapun. Apa sih sakinah itu? Sederhananya, sakinah adalah yang menjadikan pernikahan sebagai separuh agama. Dengannya, orang bisa mengoptimalkan potensinya menjadi hamba Allah, khalifah (pengelola untuk kemaslahatan alam semesta). Tenteram karena gejolak syahwat sudah ada salurannya, tenang karena ada “sahabat” yang menenangkan dan siap mendukung perjuangan.


4. Wa ja’ala baiakum mawaddatan. Kemudian ada yang harus diproses, diupayakan, yakni mawaddah. Mawaddah itu apa ya?? Wah..dalam bahasa Indonesia susah diartikan, karena memang tidak ada kosakata yang pas. Untuk menyebut cinta, bahasa Indonesia hanya mempunyai satu kosakata, sedangkan bahasa arab punya 14 kosakata, dan tiap kosakata mempunyai “rasa” tersendiri. Mudahnya, mawaddah adalah cinta yang erotis-romantis. Bentuknya bisa ekspresi paling batin sampai paling dhahir (fisik) Dari yang emosional sampai yang seksual.


5. Waja’ala bainakum rahmatan. Yang harus diupayakan bukan hanya cinta Mawaddah, tapi juga rahmah. Ini termasuk cinta juga lho, bukan sekedar kasih sayang. Cinta macam mana pula “rahmah” itu?? Cinta ini seperti dalam lagu “kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagaikan surya menyinari dunia” hehehhee. Inilah cinta yang memberi, bukan menunggu, berkorban, bukan menuntut, berinisiatif, bukan menunggu, dan bersedia, bukan berharap-harap. Cinta semacam ini oleh para psikolog disebut “motherly love” atau cinta keibuan.

Nah, sekilas inilah rukun (alur) perayaan cinta yang dituntunkan dalam Al Qur’an. JIka kita mendesain perayaan cinta dengan alur seperti ini, insyaaAllah, pernikahan anda akan sukses sampai akhirat.

Sebentar-sebentar..kok banyak pernikahan yang error?? Nah..biasanya karena plot nya kacau. Pernikahan tidak dimulai dari kesejiwaan, tetapi justru dengan mawaddah. Sebelum menikah, mereka sudah menikmati cinta yang erotis – romantis. Makanya..jangan dulu..mawaddah tuh belakangan setelah kesesuaian jiwa, pernikahan dan ketenangan. Mungkin sebabnya, mungkin lho..sudah tidak ada rasa penasaran, lha semua udah tahu, termasuk jumlah tahi lalat di tubuh aja tahu….apa yang bikin penasaran lagi coba? wekekkekeke

*dari berbagai sumber

22 Agustus, 2008

Mari berpikir solutif

Suatu saat, saya ditanya oleh tetangga saya. Beliau menanyakan tentang boleh tidaknya melaksanakan aqiqah ketika usia sudah besar (dalam hal ini anaknya sudah smp). Terus terang, sepengetahuan saya, aqiqah dilaksanakan ketika anak berusia 7, 14, 21 hari. di luar itu, wallahua'lam, saya kurang begitu paham, karena para ulama pun berbeda pendapat mengenai hal ini.

Dalam tulisan ini saya tidak ingin menyoroti tentang hiruk pikuk masalah fiqih, karena memang bukan porsi saya (aku sopo sih wekekek). Saya hanya berniat menyoroti tentang pola pikir salah yang selama ini menjadi penyakit menular yang berbahaya yang menggerogoti sendi sendi umat islam. Pola pikir tersebut adalah "pola pikir tanpa solusi".

Contoh dalam masalah akikah tadi. Kita terlalu berkutat dengan masalah "boleh tidaknya aqiqah ketika sudah dewasa" kita sibuk mencari pendapat ulama ini, pendapat ulama itu, sibuk mencari dalil-dalil yang mendukung alasan kita.

Padahal, pada jaman Rosulullah SAW, hampir setiap orang bisa melaksanakan aqiqah, semiskin apapun dia, sehingga permasalahan "boleh enggak kalo aqiqah pas usah gedhe", hampir tidak pernah muncul ke permukaan. Karena, pada jaman keemasan islam tersebut, ketika ada bayi lahir dari keluarga miskin, tetangga-tetangga langsung berlomba-lomba untuk meringankan beban keluarga yang bersangkutan. Ada yang menyumbang satu dirham, ada yang menyumbang tenaga, ada yang meberi kambing dll.

Itulah yang saya sebut pola pikir solutif. Bagaimana kita berpikir "bagaimana menyelesaikan masalah", bukan "bagaimana cara menghakimi sesuatu yang bermasalah".

Ketika Tsa'labah memohon kepada Rosulullah agar di doakan menjadi orang kaya, oleh Rosulullah, selain di doakan, juga di beri seekor kambing betina yang sedang hamil. Itulah solusi, dicontohkan nyata oleh teladan seluruh alam, Rosulullah Muhammad SAW.

Mari kita berpikir, bagaimana tetangga kita yang miskin, bisa hidup dengan layak, bukan menyalahkan "kebodohannya" mencari nafkah. Mari kita berpikir, bagaimana agar sampah bisa dikelola dengan baik, bukan menyalahkan pemerintah yang kekurangan armada truk pengangkut sampah. Mari kita berpikir, bagaimana cara tetangga kita yang belum menikah agar segera menikah, bukan menyalahkan "wajahnya" yang kebetulan "tidak menjual". dan banyak lagi contoh yang bisa kita pikirkan bagaimana solusinya.

Wallahua'lam bishowab

15 Agustus, 2008

Khutbah Rosulullah Menyambut bulan Ramadhan


"Wahai manusia! Sungguh telah datang kepada kalian bulan Allah denganmembawa barokah, rahmah, dan maghfirah. Bulan yang paling mulia padasisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang palingutama.Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demijamnya adalah jam-jam yang paling utama. Inilah bulan ketika kamudiundang menjadi tetamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya.
Pada bulan ini nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmuditerima, dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabb-mudengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untukmelakukan shaum dan membaca kitab-Nya.
Celakalah orang yang tidak mendapatkan ampunan Allah pada bulan yangagung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu, kelaparan dankehausan pada hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin.Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda. Sambungkanlah talisilaturahmimu. Jagalah lidahmu. Tahanlah pandanganmu dari apa yang tidakhalal kamu memandangnya. (Tahanlah pula) pendengaranmu dari apa yangtidak halal kamu mendengarkannya. Kasihilah anak-anak yatim, niscayaanak-anak yatimmu (akan) dikasihi manusia.
Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganuntuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah saat-saat yang palingutama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hamba-Nya dengan penuhkasih. Dia menjawab mereka ketika menyeru-Nya, menyambut mereka ketikamereka memanggil-Nya, dan mengabulkan mereka ketika mereka berdoakepada-Nya.
Wahai manusia! Sesungguhnya (disebabkan) diri kalian tergadai karenaamal-amal kalian, maka bebaskanlah dengan istighfar. (Karena)punggung-punggungmu berat karena beban (dosa) mu, maka ringankanlahdengan memperpanjang sujudmu. Ketahuilah, Allah Ta'ala bersumpah dengansegala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengazab orang-orang yangshalat dan sujud dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada harimanusia berdiri di hadapan Rabbul 'Alamin.
Wahai manusia ! Barang siapa di antaramu memberi (makanan) untuk berbukakepada orang-orang mukmin yang melaksanakan shaum pada bulan ini, makapada sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan iadiberi ampunan atas dosa-dosanya yang lalu."Para sahabat bertanya, "Ya,Rasulullah, kami semua tidaklah mampu berbuat demikian." Rasulullahmeneruskan khutbahnya. "Jagalah diri kalian dari api neraka walaupunhanya dengan sebiji kurma. Jagalah diri kalian dari api neraka walaupunhanya dengan seteguk air.
Wahai manusia! Barang siapa yang membaguskan akhlaknya pada bulan ini ,dia akan berhasil melewati shirath pada hari ketika kaki-kakitergelincir. Barang siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yangdimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) pada bulan ini, Allahakan meringankan pemeriksaan-Nya pada hari kiamat. Barang siapa yangmenahan kejelekannya pada bulan ini Allah akan menahan murka-Nya padahari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memuliakan anak yatim padabulan ini, Allah akan memuliakannya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.Barang siapa menyambungkan tali persaudaraan pada bulan ini, Allah akanmenghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.Barang siapa memutuskan kekeluargaan pada bulan ini, Allah akanmemutuskan dari rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa melakukan shalat sunnah pada bulan ini, Allah akan menuliskanbaginya kebebasan dari api neraka. Barang siapa melakukan shalat fardhu,baginya ganjaran seperti melakukan tujuh puluh shalat fardhu pada bulanyang lain.
Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, makamintalah kepada Tuhanmu agar tidak akan pernah menutupkannya bagimu.Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabb-mu agar tidakakan pernah dibukakan bagimu. Syetan-syetan terbelenggu, maka mintalahagar mereka tidak lagi pernah menguasaimu."Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib, berdiri dan berkata, "YaRasulullah, apa amal yang paling utama pada bulan ini ?" "Ya, AbuAl-Hasan, amal yang paling utama pada bulan ini adalah menjaga diri dariapa yang diharamkan Allah." Jawab Nabi SAW.

10 Agustus, 2008

Diponegoro (sejarah manis bagian 3)

Tiga puluh tahun setelah mangkatnya Hamengkubuwono I, kesultanan yang ditinggalkannya mulai bergolak untuk melahirkan pahlawan baru, Cicitnya, Diponegoro, yang telah dua kali menolak ditawari menjadi Hamengkubuwono IV, yang memimpin perlawanan paling berdarah terhadap Belanda, memakai gelar yang sangat menarik dalam pentahbisan Sultan di Matesih; “Abdul Hamid Herucakra Kabirul Mukmin Sayidin Panatagaming Jawa Khalifat Rosulillah Sain.

Mengapa memilih nama “Abdul Hamid”? Polycarpus Swantoro dalam Dari Buku ke Buku Sambung Menyambung Menjadi Satu, Saleh As’ad Djamhari dalam disertasinya yang berjudul Strategi Menjinakan Diponegoro sepakat, bahwa Diponegoro lahir di masa pemerintahan Sultan Hamid I di Turki ‘Utsmaniyah. Kata ‘Sain’, menurut Swantoro, kemungkinan adalah pengucapan jawa atas kata Arab Ats Tsanii, yang berarti ‘yang kedua’. Penambahan Kabirul Mukmin juga menarik, ditambah lagi penggantian kata Khalifatullah dengan Khalifat Rosulillah. Ini menunjukkan pengaruh riwayat hadits yang lebih dalam. Adakah Diponegoro pernah mendengan atsar Abu Bakr, “Khalifatullah hanyalah Dawud ‘Alaihissalam”?

Nah, lebih menraik lagi fakta yang disampaikan Djamhari, bahwa hirearkis kepangkatan, susunan militer, pakaian seragam, bahkan nama korps dalam pasukan Diponegoro sangat jauh dari bau Jawa maupun Eropa. Misalnya, Diponegoro didampingi oleh empat alibasah. Mereka membawahi beberapa basah. Dan Komandan terendahnya disebut Angadaulah dan Dulah. Itu, tentu saja adalah pengucapan jawa untul kata turki Ali Pasha, Pasha, dan Agha Daulah. Dalam barisan ini ada korps Bulkiya, Turkiya, dan Borjomu’ah. Nah, yang ini persis dengan susunan militer Janissarie, pasukan elite Sultan Turki.

Kalau ingin melihat seragam prajurit Diponegoro, tergambar jelas dalam lukisan Raden Saleh berjudul Historiche Tableu, die Gefangennachmen des Javanischen Haupttling Diepo Negoro – yang mewakili nasionalisme kita- dan bahkan lukisan karya nicolaas pieneman- yang menjadi versi resmi Pemerintah Belanda- sangat santri, dan sangat tidak “njawani”. Yang ini dibahas dalam buku Peter B. Carey, Asal-usul Perang Jawa.

Darimana Diponegoro memahami hal-hal ini? Djamhari pun belum bisa memastikan, kecuali catatan kabur tentang berlabuhnya tiga kapal raksasa di pantai selatan jawadi saat perang sedang ramai ramainya. Yang, pangeran dari Kesultanan Yogyakarta ini sejak kecil sangat dekat dengan para ‘Ulama. Kalau kita menonton film Kingdom of Heaven garapan Ridley Scott, terlihat bahwa disamping Shalahuddin selalu berdiri seorang ‘Ulama muda yang penuh dengan semangat Jihad, yang kadang mendebat sengit bila Shalahuddin berbicara tentang perdamaian. Seperti Salahuddin, Diponegoro punya Kiai Mojo. Simak saja jawaban sang ‘Alim berwajah tampan ini yang tersurat dalam babad ketika menjawab tawaran damai Jenderal De Kock.

Ngantepi Islam Samya
Nglampahi parentah dalil
Ing Qur’an pan Ayat Katal

Bersama memantapkan Islamnya
Melaksanakan perintah dalil
Dalam Al-Qur’an Surat At Taubah

Selesai
Disadur secara bebas dari bukunya mas Salim A Fillah