“Janganlah kamu suka marah, maka bagimu surga.” (HR.Thabrani)
Hadits tersebut begitu pendek, saking pendeknya, anak saya yang baru 3 tahun sudah hafal hadits ini.. Memang hadits yang pendek, tetapi bermakna sangat mendalam. Ya..marah akan membuat orang kehilangan kontrol diri, kehilangan kecerdasan, kehilangan ingatan dan kehilangan akurasi tindakan. Hal-hal tersebut bisa berakibat fatal bagi kehidupan seseorang.
Jurnal jurnal kesehatan membuktikan bahwa orang yang mudah marah, detak jantungnya tidak teratur (disebut atrial fibrillation – AF). AF akan meningkatkan resiko penggumpalan darah menuju otak, sehingga berakhir dengan stroke.Pria-pria yang mudah marah akibat stres beresiko terserang penyakit jantung tiga kali lebih besar. dan masih banyak artikel-artikel yang mengatakan bahwa mudah marah,akan berakibat buruk pada manusia.
Selain itu,tindakan dan perkataan orang yang sedang marah kadang kadang memalukan. Seperti yang di ceritakan oleh teman saya (doelkenyoet, piye kabarmu??).
Suatu sore, tetangga temen saya terlibat pertengkaran hebat dengan tetangga. Entah apa penyebabnya, yang pasti, kedua orang yang bertetangga itu terlibat adu mulut yang hebat, berteriak teriak sampai tidak memperdulikan kehadiran tetangga-tetangga yang mulai berdatangan menonton.
Seperti umumnya orang bertengkar, umpatan umpatan keluar silih berganti, binatang-binatang yang tidak bersalah ikut disebut. Tapi mungkin karena emosi sudah tinggi, mengumpat umpat justru tidak membuat mereka semakin redam. Karena kehabisan spesies hewan yang akan disebut, akhirnya salah satu pihak mengambil inisiatif dengan mengumpat menggunakan peribahasa.
"Kamu itu gak tau di untung, seperti Kambing makan pagar!!!!!"
Gerrrrrrrr...serentak para penonton pertandingan adu mulut tertawa terpingkal pingkal...
mungkin yang dimaksud adalah "pagar makan tanaman", tapi apa lacur..seperti yang saya tulis diatas, orang yang marah akan kehilangan kontrol perbuatan dan perkataan.
Jangan mudah marah ya hehehehhehe
26 April, 2010
22 April, 2010
Kopi Merapi
Beberapa waktu yang lalu, saya pernah membaca tentang sejarah kopi yang ternyata penuh dengan lika-liku dan intrik yang tidak sederhana.Ya..kopi memang nikmat,dan kenikmatan dalam secangkir kopi ternyata menyimpan cerita panjang yang berdarah-darah. Sejarah kopi berhubungan erat dengan kejayaan negara arab waktu itu, kolonialisme, percobaan biologi ilmiah, penyebaran bibit kopi yang menelan banyak korban dan penuh intrik kelicikan dan cerita-cerita tentang keserakahan manusia, bahkan juga berhubungan dengan program "tanam paksa" yang mengerikan itu.
Ah..semua itu hanyalah sejarah yang kadang ditulis dengan hiperbolis. Tapi tetap saja menarik :D

Kembali ke kopi merapi. Saya memang pernah mendengar varietas jenis ini, tapi baru kemaren saya berkesempatan mencoba merasakan. Saya membeli kopi ini di kedai sederhana milik KUB Kebun Makmur di Jl. Kaliurang Km 19,9 Dusun Sawungan, Hargobinangun, Pakem, Sleman.
Tetapi sayangnya saya baru merasakan jenis kopi arabica. Lain waktu akan saya coba yang robusta. Anda sudah tahu perbedaan kedua jenis kopi ini kan??
Kopi merapi ditanam di lereng gunung merapi dengan penanaman organik. Sifat sifat tanah vulkanis hasil kegiatan gunung api mempengaruhi rasa, bentuk dan warna kopi ini. Dan yang jadi nilai plus, kopi ini adalah kopi asli, tanpa campuran, tanpa tambahan penyedap apapun. Benar benar asli.
Seduhan kopi merapi cenderung berwarna coklat, encer (tidak kental) dan tidak ada material yang mengapung di permukaan air. Aromanya khas, harum dan enak, meski menurut saya pribadi, aromanya kalah dengan Kopi toraja.
Ketika cairan kopi masuk ke kerongkongan, terasa lembut, nikmat dan ada sensasi rasa "aneh" yang melenakan (belakangan saya tahu kalo rasa "aneh" itu diberi nama "semriwing"). Hal ini berbeda sekali ketika sama minum kopi pabrikan (misal kopi kapal geni). Rasa kopi pabrikan cenderung "menghentak", kuat dan mantab, tetapi kurang nikmat. Bolehkan saya bilang kalo rasa kopi pabrikan lebih "meledak". Umumnya kopi-kopi keluaran pabrikan seperti itu telah dicampuri bahan-bahan lain sehingga aroma dan rasanya lebih mantap. Bahkan dalam dunia perkopian dikenal ada 15 jenis bahan penyedap kopi.
Berbeda sekali..Kopi merapi arabica cenderung halus dan lembut. Rasa halus dan lembut terasa lamat - lamat di lidah dan kerongkongan. Dan hebatnya, rasa lembut itu masih terasa meskipun kita sudah selesai meminum tetes terakhir setengah jam yang lalu. Menurut penjualnya, kopi merapi lebih nikmat dibuat dengan pemanis gula aren (palm sugar). dan itu sudah saya buktikan..pedagangnya gak bohong. Kelembutan dan kenikmatan kopi merapi arabica akan bertambah berlipat lipat ketika kita memakai gula aren sebagai pemanis, bukan gula pasir biasa.
Yach..kopi merapi memang nikmat..bahkan sangat nikmat. Meskipun begitu, sepertinya kita masih akan menunggu cukup lama untuk bisa melihat kopi merapi go nasional, apalagi international. Dari sumber harian kedaulatan rakyat, Produksi kopi khas jogja ini baru 20 tan pertahun, dengan luas lahan 200 hektar. Ini belum ada apa apanya dibanding di daerah lain yang mencapai ribuan hektar.
Masalah yang lain, lebih banyak petani memilih menanami lahan kosong di lereng merapi dengan kolonjono sebagai pakan ternak, daripada ditanami kopi yang panennya hanya setahun sekali. Selain itu biji kopi membutuhkan penangananan pasca panen yang rumit dibanding hasil perkebunan yang lain.
Banyak hal yang membuat kopi merapi kehilangan pamor di daerah sendiri, tapi untuk masalah rasa, saya berani jamin, Kopi merapi tidak kalah dengan kopi dari daerah lain, dengan berbagai keunggulan seperti yang telah saya ceritakan.
06 Februari, 2010
SUMPAH!!! NOL SAMPAH!!!

Ternyata, meniru tidak selamanya buruk, terutama meniru hal hal yang baik. Ya..aksi koin untuk mbak Prita yang sempat menggetarkan institusi pengadilan di Indonesia itu, ditiru oleh sekelompok masyarakat disekitar kali code Yogyakarta, Aksi itu bernama KPC (koin peduli code).
Gerakan KPC merupakan perwujudan sumpah masyarakat kali code yang bertekat "nol sampah Tahun 2010". Dengan mengambil jargon "SUMPAH!! NOL SAMPAH!!" aksi KPC dideklarasikan hari kamis, 4 februari 2010 di Magister Sistem Teknik FT UGM.
Gerakan KPC bertujuan untuk menggugah kesadaran warga sekitar kalicode, dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan Kali Code dengan menciptakan nol sampah dikawasan sungai itu, dan kemudian di ikuti sungai sungai yang lain.
Yang menurut saya sangat menarik dari aksi ini adalah, aksi ini benar - benar kesadaran murni warga sekitar kali code, yang ikut handarbeni(merasa memiliki) kawasan sungai yang mereka tempati. Masyarakat kali code benar benar sadar bahwa kelestarian sungai, adalah tanggungjawab semua warga, bukan hanya dinas terkait.
Meraka juga sadar bahwa sungai adalah sebuah sistem, dari hulu sampai hilir. penanganan sungai yang parsial akan berpengaruh disepanjang aliran tersebut. Maka perlu dibuat kampanye besar besaran, agar semua orang di yogyakarta ini menghentikan membuang sampah disungai. dari hulu (sleman) sampai ke hilir (bantul). karena gerakan ini jika hanya dilakukan parsial, hasilnya akan sia sia. Sungguh luar biasa, pola pikir integral seperti ini membutuhkan pemahaman yang mendalam dan ilmu yang tidak mudah. Terakhir saya mendengar konsep penangananan menyeluruh kawasan sungai ini dari Dr. Ing. Agus Maryono, seorang dosen ahli sungai dari FT UGM.
Pola pikir menyeluruh ini seolah olah menyindir habis habisan penanganan sungai di Yogyakarta dan mungkin di Indonesia-, yang selama ini masih parsial. misalnya pembangunan talud permanen yang menyebabkan hilangnya mata air, atau pembangunan bendung irigasi yang menghalangi migrasi ikan dll dll.
Akhirnya, saya menyampaikan rasa salut luar biasa kepada kelompok pemerti kali code atas usahanya yang luar biasa.
02 Februari, 2010
Ironisme menyakitkan..hancur hatiku...
Tulisan ini samasekali bukan tulisan rasis atau fanatisme kedaerahan. Bukan juga perasaan sok mudah tersentuh atau sok baik. samasekali bukan. Tuliasn ini sekedar cerita pengalaman, yang bisa jadi bisa digunakan sebagai gambaran keadaan negeri tercinta kita.
Akhir tahun 2009 yang lalu, saya mendapat tugas kerja ke Jakarta. Sepertinya saya menjadi salah korban dalam menghabiskan anggaran negara yang sudah hampir habis Tahun Anggarannya, karena acara yang saya hadiri ternyata tidak begitu penting, tidak begitu menaraik dan cenderung membosankan. Memang judulnya keren.. "Perumusan kebijakan kawasan cepat tumbuh daerah dalam bidang infrastuktur jalan dan jembatan dalam rangka meningkatan pertumbuhan ekonomi daerah"..tapi isinya..ya beg..beg..begitulah.. ramenarik dan njelei hehheehe
Selama di Jakarta, saya menginap di hotel mercure rekso. Sebuah hotel yang cukup mewah,- minimal menurut saya pribadi- dikawasan jakarta pusat. Hotel dengan 48 lantai (kalo gak salah baca di lift, dengan standar pelayanan international. Semua fasilitas tersedia di hotel tersebut, kolam renang, gym, karaoke, bar, diskotik..bahkan kalau anda merasa pegal leher, ada fasilitas pijat shiatsu. Tapi jangan heran kalau anda menggunakan fasilitas tersebut, tagihan anda akan membengkak.
Sungguh, sebagai anak ndeso , saya cukup menikmati menginap di hotel berbintang seperti itu. Semua perabotan bukan barang murahan, kamar mandi bersih dan wangi dengan air panas yang tersedia setiap saat, mini bar di setiap kamar dengan aneka makanan dan minuman, tv lcd 42" dengan saluran dalam dan luar negeri, koneksi internet tinggal colok, pelayan yang ramah yang seolah olah tidak pernah capek untuk tersenyum atau sekedar menyapa kita dengan ramah. Oh..ya..anda butuh rokok?? tinggal angkat telpon, hubungi room service..maka dalam waktu sekejab, rokok yang anda inginkan akan tersedia. Tempat tidurnya juga bagus, empuk tapi tidak bikin sakit leher. Selimutnya tebal, hangat..tapi tidak membuat gerah. Entah dari bahan apa mereka membuatnya. Handuk diganti 2 kali sehari, pagi dan sore sehingga selalu wangi, putih dan bersih.
Cerita tentang makanan? ... jam 7 pagi anda ke resto lantai dasar, berbagai makanan dalam dan luar negeri tersedia dan sekali lagi, disajikan oleh pelayan yang menawan bak bidadari berseragam. Atau makan siang? menu lengkap dari mulai makanan pembuka, makanan utama dan makanan penutup tersedia. Alunan musik lembut juga seolah-olah semakin menambah selera makan kita. makan malam juga begitu, selalu memanjakan keinginan perut kita. Dan untungnya, saya menikmati semua itu tanpa membayar sepeserpun wehehheehe
Tetapi, ketika di sore hari, saya ada janjian dengan teman saya yang tinggal di sekitar hotel tersebut. Baru beberapa langkah keluar dari loby hotel, udara panas segera menyergap. Bau yang mirip mirip kolam lele yang berasal dari sungai--yang lebih mirip dengan got raksasa-segera mengaduk aduk perut saya. Hampir saja saya muntah. Segera saya naik ke jembatan penyeberangan menuju ke shelter bushway. Di jembatan penyeberangan, saya melihat seorang tunawisma, sedang mengorek ngorek makanan dari tempat sampah hotel.
Berbagai hal segera melintas di otak dan hati saya. LUARR BIASAAA!!! ternyata ketika saya makan dengan lahap, dilayani oleh bidadari berseragam dan ditemani alunan musik lembut itu.. di luar hotel, dengan jarak tidak sampai 50 meter, ada seorang yang karena begitu miskinnya, sampai mengorek tempat sampah, untuk bertahan hidup. Ternyata ketika saya tidur mendengkur dibawah selimut hangat dan wangi, diluar, ada orang yang berselimut koran bekas didera lapar dan dingin.
Seketika itu, rasa bersalah mendera hati saya. Rasa bersalah yang mungkin tidak ada gunanya. Karena bagaimanapun besar rasa bersalah saya, tidak akan merubah apapun. Dan kalaupun ditanya tentang solusi ironisme sosial tersebut. Saya akan angkat tangan dan menjawab "tidak tahu".
Wallahua'lam bishshowab
Akhir tahun 2009 yang lalu, saya mendapat tugas kerja ke Jakarta. Sepertinya saya menjadi salah korban dalam menghabiskan anggaran negara yang sudah hampir habis Tahun Anggarannya, karena acara yang saya hadiri ternyata tidak begitu penting, tidak begitu menaraik dan cenderung membosankan. Memang judulnya keren.. "Perumusan kebijakan kawasan cepat tumbuh daerah dalam bidang infrastuktur jalan dan jembatan dalam rangka meningkatan pertumbuhan ekonomi daerah"..tapi isinya..ya beg..beg..begitulah.. ramenarik dan njelei hehheehe
Selama di Jakarta, saya menginap di hotel mercure rekso. Sebuah hotel yang cukup mewah,- minimal menurut saya pribadi- dikawasan jakarta pusat. Hotel dengan 48 lantai (kalo gak salah baca di lift, dengan standar pelayanan international. Semua fasilitas tersedia di hotel tersebut, kolam renang, gym, karaoke, bar, diskotik..bahkan kalau anda merasa pegal leher, ada fasilitas pijat shiatsu. Tapi jangan heran kalau anda menggunakan fasilitas tersebut, tagihan anda akan membengkak.
Sungguh, sebagai anak ndeso , saya cukup menikmati menginap di hotel berbintang seperti itu. Semua perabotan bukan barang murahan, kamar mandi bersih dan wangi dengan air panas yang tersedia setiap saat, mini bar di setiap kamar dengan aneka makanan dan minuman, tv lcd 42" dengan saluran dalam dan luar negeri, koneksi internet tinggal colok, pelayan yang ramah yang seolah olah tidak pernah capek untuk tersenyum atau sekedar menyapa kita dengan ramah. Oh..ya..anda butuh rokok?? tinggal angkat telpon, hubungi room service..maka dalam waktu sekejab, rokok yang anda inginkan akan tersedia. Tempat tidurnya juga bagus, empuk tapi tidak bikin sakit leher. Selimutnya tebal, hangat..tapi tidak membuat gerah. Entah dari bahan apa mereka membuatnya. Handuk diganti 2 kali sehari, pagi dan sore sehingga selalu wangi, putih dan bersih.
Cerita tentang makanan? ... jam 7 pagi anda ke resto lantai dasar, berbagai makanan dalam dan luar negeri tersedia dan sekali lagi, disajikan oleh pelayan yang menawan bak bidadari berseragam. Atau makan siang? menu lengkap dari mulai makanan pembuka, makanan utama dan makanan penutup tersedia. Alunan musik lembut juga seolah-olah semakin menambah selera makan kita. makan malam juga begitu, selalu memanjakan keinginan perut kita. Dan untungnya, saya menikmati semua itu tanpa membayar sepeserpun wehehheehe
Tetapi, ketika di sore hari, saya ada janjian dengan teman saya yang tinggal di sekitar hotel tersebut. Baru beberapa langkah keluar dari loby hotel, udara panas segera menyergap. Bau yang mirip mirip kolam lele yang berasal dari sungai--yang lebih mirip dengan got raksasa-segera mengaduk aduk perut saya. Hampir saja saya muntah. Segera saya naik ke jembatan penyeberangan menuju ke shelter bushway. Di jembatan penyeberangan, saya melihat seorang tunawisma, sedang mengorek ngorek makanan dari tempat sampah hotel.
Berbagai hal segera melintas di otak dan hati saya. LUARR BIASAAA!!! ternyata ketika saya makan dengan lahap, dilayani oleh bidadari berseragam dan ditemani alunan musik lembut itu.. di luar hotel, dengan jarak tidak sampai 50 meter, ada seorang yang karena begitu miskinnya, sampai mengorek tempat sampah, untuk bertahan hidup. Ternyata ketika saya tidur mendengkur dibawah selimut hangat dan wangi, diluar, ada orang yang berselimut koran bekas didera lapar dan dingin.
Seketika itu, rasa bersalah mendera hati saya. Rasa bersalah yang mungkin tidak ada gunanya. Karena bagaimanapun besar rasa bersalah saya, tidak akan merubah apapun. Dan kalaupun ditanya tentang solusi ironisme sosial tersebut. Saya akan angkat tangan dan menjawab "tidak tahu".
Wallahua'lam bishshowab
Langganan:
Postingan (Atom)
